Selasa, 27 September 2016

TURUN TANAH ATAU TEDHAK SITEN ATAU MANDHAP SITI

Tedak siten atau Mandhap Siti Atau Turun Tanah

Pengharapan orang tua kepada anaknya tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara adat (adat Jawa) yang dimulai sejak bayi masih dalam kandungan Ibunya, hingga anak tersebut lahir. Salah satu bentuk perwujudannya adalah dengan Upacara Tedak Siti - Turun Tanah ketika anak sudah berusia 7 bulan.
Tedak siten merupakan budaya warisan leluhur masyarakat Jawa untuk bayi yang berusia sekitar tujuh atau delapan bulan. Tedak siten dikenal juga sebagai upacara turun tanah. ‘Tedak’ berarti turun dan ‘siten’ berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Upacara tedak siten ini dilakukan sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar si kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri.
Tradisi ini dijalankan saat si kecil berusia hitungan ke-tujuh bulan dari hari kelahirannya dalam hitungan pasaran jawa. Perlu diketahui juga bahwa hitungan satu bulan dalam pasaran jawa berjumlah 36 hari. Jadi bulan ke-tujuh kalender jawa bagi kelahiran si bayi setara dengan 8 bulan kalender masehi.
Upacara Tedak Siti itu sendiri memberi arti bahwa agar kelak anak tersebut setelah dewasa nanti kuat dan mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan yang penuh tentangan, untuk mencapai cita citanya

Rangkaian jalannya upacara :
Bayi dimandikan Banyu Gege – Air yang telah dijemur dibawah terik matahari. Banyu gege ditabur bunga talon sebagai symbol dari budi pekerti yang halus, kebijaksanaan dan keduniawian. Banyu gege le ndang gede – Sang bayi lekas besar

Bayi dimandikan oleh Ibu didampingi nenek dan penata acara (MC).Setelah berpakaian dilanjutkan dengan prosesi menginjak tanah.
Kaki si bayi diinjakan di tanah lalu diinjakkan pada judah  ketan yang bewarna hitam, merah, kuning, hijau, putih yang arti dari semua warna tersebut mewakili nafsu manusia.

Si Bayi dipanjatkan pada tangga yang terbuat dari tebu dan pijakannya dari Pisang Raja yang  melambangkan mangalahkan nafsu duniawi sehingga mencapai puncak kehidupan yang didasari Anteping Kalbu - hati yang mantap.

Si Bayi kemudian dimasukkan kedalam kurungan yang telah diisi dengan berbagai macam benda seperti mainan, uang, buku, Pensil, Bedak,  perhiasan, dll. Benda-benda tersebut memberikan symbol profesi atau mata pencaharian sang bayi kelak bila telah dewasa, hal ini dapat ditentukan setelah sang bayi telah mengambil benda yang dipilihnya.
Ada pula beberapa pendukung acara berupa sesajen. Sesajen ini merupakan sarana keselamatan sang bayi, terdiri dari :

Tampah berisi jajanan pasar yang isinya bermacam jajanan pasar : buah buahan, pala gumantung - buah menggantung, pala kependem - buah didalam tanah, pala kesimpar - buah diatas tanah, umbi umbian. Melambangkan kesejahteraan Ibu Pertiwi.

Tumpeng janganan, sesaji ini mengingatkan kepada saudara yang tak terlihat dari si bayi, lazim disebut Kakang kawah adi ari ari

Umbul umbul dikanan dan kiri agar martabat sang bayi membumbung ke atas. dan di akhiri dengan kidungan atau puji pujian yang merupakan pengharapan orang tuanya pada masa depan si bayi.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar